Lemper Ayam Spesial 168, Warisan Rasa Seorang Ayah yang Kini Jadi Kudapan Primadona Surabaya

Lemper Ayam Spesial 168, Warisan Rasa Seorang Ayah yang Kini Jadi Kudapan Primadona Surabaya

Dari dapur sederhana di Surabaya, Lemper 168 jadi simbol cinta keluarga dan kuliner tradisional yang terus bertahan di era digital.

SURABAYA, KOMPAS.com - Di tengah gemerlap makanan kekinian dan hiruk-pikuk tren kuliner luar negeri yang silih berganti, siapa sangka sepotong lemper justru tetap bertahan.

Bahkan, namanya kian harum di tengah padatnya kota Surabaya.

Lemper Ayam Sepesial 168 merupakan kudapan sederhana yang menjadi lebih dari sekadar jajanan.

Menjadi warisan rasa, kenangan keluarga, dan bukti bahwa cinta pada sesuatu yang diwariskan bisa tumbuh menjadi kekuatan.

Filosofi Keluarga

Berlokasi di Jalan Walikota Mustajab Surabaya, usaha makanan itu buka setiap hari mulai pukul 06.30 hingga 15.30.

Baca juga: Soto Mata Sapi Bu Mis, Kudapan Unik yang Memanjakan Lidah

Aktivitas pegawai Lemper Ayam Spesial 168 salah satu kudapan tradisional yang ada di Surabaya, Jawa Timur.KOMPAS.com/SUCI RAHAYU Aktivitas pegawai Lemper Ayam Spesial 168 salah satu kudapan tradisional yang ada di Surabaya, Jawa Timur.

Di balik dapurnya yang tidak pernah benar-benar sepi, ada sosok Rusmin Effendi, generasi kedua yang meneruskan usaha ini bersama sang kakak yang juga membuka cabang di Kelapa Gading, Jakarta.

“Usaha Lemper ini berawal dari tahun 2000, papa saya kemudian pensiun 2019an dan dilanjutkan ke saya, ya sudah saya nerusin,” kata pria yang biasa disapa Rusmin kepada Kompas.com.

Baginya, melanjutkan usaha ini bukan hanya soal ekonomi.

Ada nilai yang jauh lebih besar: menjaga nyala api yang dulu dinyalakan sang ayah, seorang koki yang pernah bekerja di restoran legendaris Surabaya.

Baca juga: Kue Bingka Jadi Kudapan Paling Laku di Pasar Ramadhan Palangka Raya, Bagaimana Rasanya?

“Kalau resep dari papa, dulu kerja jadi koki terus keluar buat usaha sendiri. Halal sejak papa buka usaha ini menyentuh semua kalangan. Nah, dulukan agak susah ngurus halalnya, sekarang sudah keluar sertifikatnya,” imbuhnya.

Lemper yang ditawarkannya memang tidak banyak varian, hanya satu isi ayam original.

Tapi justru dari kesederhanaan itulah rasa khas terlahir.

Dibungkus daun pisang agar aroma ketan dan santan terasa lebih harum, lalu dilapisi plastik hijau sebagai pelindung luar yang menjaga keaslian sekaligus adaptif dengan zaman.

“Mungkin selera ya, jadi lebih diterima di masyarakat. Hanya 1 varian saja, original isi ayam harga 13.000. Untuk paket kecil isi 5, yang paling besar isi 50,” kata Rusmin Effendi.

Baca juga: Mengenal Jemunak, Kudapan Ramadhan Khas Magelang dan Simbol Perlawanan terhadap Roti

Aktivitas pegawai Lemper Ayam Spesial 168 salah satu kudapan tradisional yang ada di Surabaya, Jawa Timur.KOMPAS.com/SUCI RAHAYU Aktivitas pegawai Lemper Ayam Spesial 168 salah satu kudapan tradisional yang ada di Surabaya, Jawa Timur.

Sejarah Angka 168

Sementara itu, tambahan nama “168” pun bukan sembarang angka.

Ada filosofi dalam budaya Tionghoa yang diyakini sang ayah dan kini diteruskan penuh makna oleh anak-anaknya.

“Itu nama dari papa, nama Cina, artinya satu jalan menuju kesuksesan. Makanya disebut yi lu fa, artinya satu jalan menuju kesuksesan. Makanya kalau di jalan-jalan menemukan 168, itu artinya,” ujar pria berkacamata itu.

“Enak tinggal meneruskan hehehe. Selain itu, resepnya kan sudah diajari, apalagi usahanya masih jalan kan, ya saya lanjutkan,” imbuhnya.

Hingga saat ini, hanya dibantu enam karyawan, Lemper Ayam Sepesial 168 bisa memproduksi ratusan lemper per hari.

Bahkan bisa lebih banyak saat musim libur atau momen-momen keagamaan.

Baca juga: Mengenal Kue Moho, Kudapan Tradisional yang Jadi Favorit Saat Imlek

Suasana toko Lemper Ayam Spesial 168 salah satu kudapan tradisional yang ada di Surabaya, Jawa Timur.KOMPAS.com/SUCI RAHAYU Suasana toko Lemper Ayam Spesial 168 salah satu kudapan tradisional yang ada di Surabaya, Jawa Timur.

Setiap bijinya dibuat dengan tangan, satu demi satu, tanpa mengubah resep sedikit pun.

Seolah setiap lemper menyimpan rasa hormat pada tangan pertama yang meraciknya, sang ayah.

Strategi Inovasi dan Penjualan

Meski ketika pandemi datang beberapa waktu lalu dan banyak usaha berguguran, Rusmin Effendi tidak ikut mundur.

Ia justru berinovasi menciptakan lemper versi frozen, agar bisa menjangkau lebih banyak orang yang rindu rasa rumah.

“Kita berinovasi lemper frozen agar bisa kirim keluar kota. Jadi bisa tahan sampai 1 bulan, kalau di kulkas biasa sampai 5 hari,” kata pria asli Surabaya itu.

Kini, lemper 168 tidak hanya hadir di meja makan warga Surabaya, tetapi juga dikirim hingga Makassar, bahkan pernah dibawa sampai ke Belanda sebagai bekal oleh-oleh nostalgia.

“Orang Indonesia bawa bekal lemper ke Belanda, beli 30 pcs, kalau mau dimakan di panasi saja,” sambungnya.

Apalagi dalam era digital seperti sekarang, usaha Rusmin Effendi pun ikut naik kelas.

Baca juga: Uniknya Tape Karak, Kudapan Tradisional Banyuwangi yang Dibuat dari Nasi Sisa

Dari bantuan para food blogger, hingga kehadiran di marketplace yang kini menyumbang mayoritas penjualannya.

“Iya penting banget, karena setelah kita masuk sosmednya food blogger-fod blogger itu usaha ini makin meningkat, termasuk generasi saat ini datang kesini mencicipi lemper. Mereka datang ke sini sendiri,” ujar Rusmin Effendi.

“Karena untuk rasio penjualan melalui marketplace, untuk online 70 persen, sedangkan dine-in 30 persen. Sedangkan untuk sosial media hanya publikasi saja. Kita juga packing-nya pakai thinwall, jadi orang lebih mudah,” lanjutnya.

Sehingga Lemper Ayam Sepesial 168 tetap siaga, siapa tahu, ada pelanggan yang datang bukan hanya untuk membeli makanan, tetapi juga mengenang masa lalu yang hangat lewat sepotong lemper.

“Tahun ini malah lebih ramai dari sebelumnya, saya juga kurang ngerti kenapa penyebabnya,” pungkasnya.

Artikel LAYA lainnya

Loading...
Dalam bagian ini: